Mantan Kabag Humas Bantah Soal Video Pelecehan Tukang Ojek

Dinas Pangan Promosikan Pangan Lokal Dalam Menunjang KEK Pariwisata Likupang
February 25, 2020
Program Tali Kasih; 2775 Kartu BPJS Tenaga Kerja Telah Tersalur, 1077 Diantaranya Untuk Tukang Ojek
March 4, 2020

BITUNG – Menyikapi beredarnya penggalan video dari Wali Kota Bitung Maximiliaan Jonas Lomban yang pernah diunggah oleh salah satu media pada kegiatan Hari Pangan Sedunia pada tanggal 19 Oktober 2019 di pasar Pinasungkulan Sagerat melalui dunia maya, Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan, Albert Sergius mengatakan video yang beredar sebelumnya berdurasi 9 menit 44 detik, namun telah diedit sehingga menjadi 1 menit 25 detik.
“Pak Wali Kota tidak melecehkan profesi tukang ojek, namun memberikan motivasi agar para petani melakukan regenerasi, sehingga para anak muda bisa meneruskan pekerjaan orang tua sebagai petani, Pak Wali Kota tidak sama sekali melakukan pelecehan terhadap tukang ojek, mari pahami konteks utuh dari video yang beredar,” urai Sergius.
Selanjutnya Sergius yang saat itu menjabat sebagai Kabag Humas dan Protokoler menjelaskan bahwa saat itu pak Wali Kota mengajak keterlibatan petani melenial, mengajak kepada orang tua dalam hal ini para petani yang sudah tua yang hadir saat itu untuk menularkan atau mengajarkan budaya bertani kepada para anak muda, sehinga dapat lahir petani-petani milenial yang dapat meningkatkan pertanian dan tidak memilih menjadi ojek dalam usia muda.
Lebih jauh Sergius juga mengatakan yang mana tidak ada sama sekali merendahkan tukang ojek, karena dimaksudkan pengangguran tidak tetap, karena selain tukang ojek, pasti ada pekerjaan lain yang ditekuni, atau kerja sampingan.
“Kami minta warga Kota Bitung memahami hal ini, tidak terpancing dengan isu yang sengaja dilemparkan untuk menjatuhkan kinerja Pak Wali Kota, dan anehnya lagi video tersebut sudah beredar sejak Bulan Oktober 2019 dan baru sekarang ini di viralkan,” tutur Sergius.
“Wali Kota dalam setiap kegiatan tidak pernah menjelekkan semua pekerjaan termasuk tukang ojek, bahkan sebagai bentuk kepedulian dari pak Wali Kota maka untuk saudara-saudara yang berprofesi sebagai pengemudi ojek diikutsertakan dalam program tali kasih bafi tenaga kerja non formal,” urainya.
Sementara itu salah satu motor penggerak Petani Milenial Kota Bitung, Hendry Roy Somba, yang juga selaku koordinator pelaksanaan Hari Pangan Sedunia tanggal 19 Oktober 2019 lalu, di pasar Piansungkulan Sagerat, menyesalkan beredarnya video tersebut. “Itu kegiatan Hari Pangan Sedunia, dan pak Wali Kota intinya mengajak tukang ojek agar lebih baik menjadi petani, karena hasil pangan dibutuhkan manusia setiap hari, peluangnya juga terbuka lebar, apalagi untuk generasi milenial yang bisa majukan pertanian dengan teknologi, tidak ada pelecehan atau menyepelehkan profesi tukang ojek saat itu,” ungkap Somba.
Kalau torang pahami secara benar video itu pak wali mengajak kepada orang tua (para petani tua) yang hadir saat itu utk menularkan atau mengajarkan budaya bertani kepada para “anak-anak muda” sehinga dapat lahir petani-petani milenial yang dapat meningkatkan pertanian dan tidak memilih menjadi ojek dalam usia yang muda (artinya dalam usia yang masih produktif dan potensial dengan bertani justru dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain) tidak ada maksud untuk merendahkan profesi, yang dimaksud tidak tetap itu penghasilannya dan itu benar bahwa penghasilan saudara-saudara kita yang berprofesi tukang ojek kan tidak tetap, jadi yang dimaksud walikota adalah dari segi penghasilannya dan menghimbau para anak-anak muda untuk bertani agar dapat menggantikan para petani yang sudah tua tersebut. Jadi penekanannya yg dimaksud kepada anak-anak muda yang masih produktif dan potensial.
Lebih lanjut Somba juga mengatakan bahwa dia ingat betul sempat terjadi dialog, dimana Wali Kota sempat bertanya kenapa justru paling banyak petani yang hadir justru para orang tua sehinga wali Kota menanyakan kepada salah satu petani tua yang hadir dengan pertanyaan “ibu pe anak kerja apa? selanjutnya sang ibu menjawab “ba ojek pak,” dan pak Wali lagi bertanya “kiapa nda iko jadi petani dang? Ibu menjawab “anak-anak sekarang dorang lebih suka ba ojek pak daripada bertani,” dan itulah walikota mengajak kepada mereka untuk mengajarkan anak-anak mereka untuk bertani.
Pada intinya menurut Somba bahwa saat itu tidak ada pernyataan dari Wali Kota yang menjelekkan pekerjaan tukang ojek.
“Dalam kegiatan itu tidak ada pernyataan dari pak Wali Kota yang menjelekkan tukang ojek,” pungkas Somba.(YodieR)

Leave a Reply

Your email address will not be published.