Ikut Pemilihan Komunitas Peduli Sungai Tingkat Nasional, Tim Kota Bitung Tampil Spektakuler

Diduga Muat Pasir Ilegal, TNI Lantamal VIII Bitung Tangkap Tongkang Mahameru Dan Tug Boat
May 2, 2018
Baru Delapan Hari Polres Minut Gelar Operasi Patuh, Sudah Ratusan Pengendara Yang Terjaring
May 7, 2018

Bitung – Pelaksanaan pemilihan Komunitas Peduli Sungai Tingkat Nasional tahun 2018 yang dilaksanakan di Hotel Santika Premiere Surabaya, Rabu (3/5) sangat spektakuler dan menghebohkan. Pasalnya ketika Kepala Sekolah Lingkungan Kota Bitung, Dra. Khouni Lomban Rawung MSi bersama Wakil Kepala Sekolah Sungai, Ferdy Pangalila, SPd memasuki ruangan pemaparan, 20 peserta yang hadir beserta Juri dan pendamping dibuat terkejut. Hal ini terjadi karena dua orang terbaik di sekolah Lingkungan ini menggunakan pakaian adat Kawasaran untuk pemaparan materi KPS.
Bahkan ketika Kepsek dan Wakasek ini belum tiba di pintu masuk ruangan telah dicegat sekedar untuk dimintai foto bersama.
“Ibu dari mana, bisa foto bersama?” ungkap Mutaqim, salah satu peserta dari Aceh kepada Kepsek Lingkungan Kota Bitung ini.
Belum selesai peserta dari Aceh, peserta lainnya seperti di komando langsung berkumpul untuk melakukan hal yang sama.
Kurang lebih 30 menit Rawung bersama Pangalila melayani permintaan foto bersama di depan ruangan Airlangga, dan baru berakhir ketika pengeras suara menginformasikan untuk pemaparan segera dimulai.
Pada kegiatan ini, peserta dari Sekolah Lingkungan Kota Bitung mendapat nomor urut pertama dalam pemaparan dan wawancara oleh juri penguji yaitu Prof. Dr. Ing. Agus Maryono, MSc, Ir. Arung Samudra, dan Ir. Viktor Sidabutar.
Selama 45 menit tim Sekolah Lingkungan kota Bitung ini di bombardir dengan sejumlah pertanyaan baik dari juri maupun peserta. Namun demikian sangat disyukuri karena semua pertanyaan mampu dijawab dengan baik oleh Rawung.
Bahkan pertanyaan dari Sidabutar yang sedikit memojokkan sang Kepsek bisa dijawab dengan sempurna.
“Anda sebagai istri Walikota, kenapa mau mengurus lingkungan, padahal bisa naik mobil mewah dan duduk di dalam rumah” tanya Sidabutar.
Dengan kalem dan penuh wibawa Rawung menjawab jika keikutsertaannya menjaga lingkungan karena memang panggilan hati, apalagi nama tengahnya adalah Silva yang berarti Hutan.
“Ini telah menjadi niat saya, bahkan sejak lama saya sudah ikut penyelamatan lingkungan,” ungkapnya.
Untuk Agus Maryono sendiri mengakui dan memuji langkah yang dilakukan oleh pemerintah kota Bitung serta Sekolah Lingkungan dalam penanganan hemat sampah.
“Ini patut ditiru, dan jika perlu sampai ke pemerintah pusat, bagaimana menghemat sampah plastik,” ungkapnya sambil mengatakan jika apa yang dilakukan Sekolah Sungai perlu ditingkatkan dengan apa yang sudah ada saat ini.(YodieR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *